Thursday, May 30, 2013

Contoh Analisis Cerpen

Inilah Contoh Analisis Cerpen yang sudah saya buat untuk dijadikan referensi .





 NAMA : IKE NOFALIA
KELAS : 1.E
No.absen : 17
NPM : 11.1.01.10.0165

SUNGAI

(Karya Nugroho Notosusanto)

Setiap kali menyeberangi sungai, Sersan Kasim merasakan sesuatu keharuan yang mendenyutkan jantungnya. Seolah-olah ia berpisah dengan sesuatu, sesuatu dalam hidupnya. Makin besar sungai itu, makin besar pula keharuan yang menggetarkan sanubarinya.

Kini, kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai yang terbesar di Jawa Tengah, Sungai Serayu.

Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencetan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada.

Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan. Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan dengan sangat hati-hati, menggendong bayi pada panggulnya sebelah kiri. Dari bahu kanan bergantung sebuah sten. Hanya samar-samar matanya yang terlatih melihat orang yang berjalan di depannya. Untuk memudahkan penglihatan, tiap-tiap prajurit yng kurang baik penglihatannya, memasang sepotong cendawan yang berpijar pada punggung kawan yang berjalan di depannya.

Sepuluh bulan yang lalu, pada bulan Februari 1948, Sersan Kasim juga menyeberangi Sungai Serayu dengan kompinya. Tatkala itu mereka berjalan ke arah timur. Persetujuan Renville telah ditandatangani dan pasukan-pasukan TNI harus hijrah ke kantong-kantong dalam wilayah de facto Belanda. Banyak diantara bintara dan prajurit yng membawa serta anak istrinya.

Ketika itu Sersan Kasim telah setengah tahun menikah. Istrinya yang belia sudah lima bulan mengandung. Namun, ia memaksa mengikuti suaminya ke wilayah kekuasaan Republik. Pernah terpikir oleh Kasim untuk menitipkan istrinya kepada mertuanya di Pager Ageung. Tapi tidak sempat, lagipula Aminah tidak mau ditinggalkan. Ia bersitegang hendak ikut. Dan siapa yang dapat bertahan terhadap sifat keras kepala wanita yang sedang mengandung?

Dua bulan setelah mereka tiba di Yogya, Acep dilahirkan. Matanya hitam tajam, meskipun badannya sangat kecil, dan rambutnya lebat seperti hutan di Priangan. Tapi untuk melahirkan anaknya, Aminah telah menggunakan sisa-sisa tenaga rapuhnya yang terakhir. Ia meninggal sehari kemudian karena kepayahan. Acep dapat dipertahankan hidupnya berkat rawatan khusus para dokter dan juru rawat di rumah sakit tentara.

Kini Sersan Kasim berjalan kembali ke Jawa Barat. Kali ini jarak antara Yogya dan Priangan Timur harus mereka tempuh dengan berjalan. Tidak ada truk Belanda yang mengangkut, tidak ada kereta api Republik yang menjemput. Mereka berjalan kaki, menempuh jarak lebih dari 300 kilometer, turun lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar.

Akhirnya mereka kembali di tepian Sungai Serayu, akan tetapi jauh kesebelah hulu, di kaki pegunungan daerah Banjarnegara. Kini tiada jembatan, tiada titian. Mereka harus terjun ke dalam air.

Perlahan-lahan Sersan Kasim menuruni tebing yang curam. Ia menggigil dilanda angin pegunungan dari sebelah lembah. Dengan cermat ia perbaiki letak selimut berlapis dua yang menutupi Acep dalam gendongan. Acep, biji matanya, harapan idamannya. Kemudian, dengan satu gerakan ia usap air hujan pada wajahnya sendiri. Ia menggigil lagi. Iring-iringan sekonyong-konyong berhenti. Prajurit di depannya juga menggigil. Mereka menggigil berdekat-dekatan.

Kemudian ada pesan dari depan.

“Kepala Regu, kumpul!” dibisikkan dari mulut ke mulut. Kasim berjalan ke muka. Komandan Peleton sudah menanti di depan Regu I. Mereka menerima instruksi mengenai penyeberangan.

Menurut intelligence, musuh menjaga tepian sana dengan kekuatan satu kompi. Sungai diawasi mulai bagian yang airnya setinggi perut. Karena itu pasukan akan menyeberangi lebih ke hilir. Ada kemungkinan air mencapai dada. Perintis telah menyiapkan tali untuk berpegangan.

”Ada pertanyaan?” tanya Komandan Peleton.

Tidak ada yang menyahut. Samar-samar Sersan Kasim melihat pandangan Komandan tertuju kepadanya.

”Bagaimana bayimu?” tanya Komandan.

”Tidur Pak,” jawab Kasim singkat.

”Kalau pikiranmu berubah, masih ada waktu untuk menitipkannya pada barisan keluarga.”

Kasim tak segera menjawab. Sebentar pikirannya melayang kepada para wanita dan kanak-kanak yang dititipkan kepada Pak Lurah dan penduduk Karangboga. Kalau situasi aman, mereka akan diseberangkan sedikit demi sedikit oleh rakyat. Mereka akan dijemput oleh satu regu di seberang sungai setelah diberitahu oleh kurir.

”Sersan Kasim tinggal. Lainnya bubar!” kata Komandan menembus kesepian. Kepala regu lainnya kembali kepada anak buahnya.

Lagi Kasim merasa pandangan mata Komandan tertuju kepadanya dan kepada anaknya. Kasim tahu apa arti pandangan itu. Ya, ia tahu sebenarnya Komandan ingin bertanya, apakah ia menyadari bahwa tangisan seorang bayi dapat membawa kebinasaan bagi lebih dari seluruh kompi. Bahwa bayinya, si Acep, dapat mmbahayakan jiwa lebih dari seratus orang prajurit. Itulah yang tersirat dalam pandangan Komandan.

Pandangan Komandan itu seolah-olah berkata, ”Ingatlah Kompi 3 batalyon B yang kehilangan 16 prajurit dan 10 keluarga, karena serangan mendadak oleh musuh. Hanya karena seorang bayi yang menangis. Tangis yang dengan cepat menular pada beberapa anak kecil lainnya”.

Samar-samar Sersan Kasim mendengar derau sungai di bawah. Dia bayangkan kesunyian malam yang aman dirobek-robek oleh letusan senjata. Dia bayangkan kompinya terjebak di tengah-tengah sungai, tak berdaya.

Tatkala itu Acep bergerak-gerak dalam gendongan bapaknya. Kasim merasa anaknya menyusup-nyusupkan kepala ke dadanya, ke ketiaknya, seakan-akan mencari perlindungan yang lebih aman. Rasa sayang membual keluar dan menyesakkan kerongkongan Kasim. Anakku yang tak sempat mengenal ibunya, pikirnya. Anakku yang disusui oleh botol. Dan kini dia harus dititipkan pada orang lain! Untuk berapa lama? Dan amankah dia dalam asuhan orang lain? Akan selamatkah dibawa orang asing dalam penyeberangan nanti? Anak lelaki titipan satu-satunya, pusat rasa yang sehalus-halusnya, peninggalan istri yang setia dan keras hati. Cucu yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya di Garut, untuk mertuanya di Pager Ageung, sebagai tanda mata anak dan menantu dari istrinya tercinta yang telah meninggal.

Sersan Kasim membelai anaknya yang dalam gendongan,

”Saya minta izin untuk membawanya,” katanya.

”Kau yakin dia tidak menangis?”

”Insya Allah, tidak.”

”Baik kalau begitu. Hati-hati saja.”

”Siap Pak. Terima kasih.”

Ketika giliran peletonnya untuk menyeberang, Kasim menggigil lebih keras lagi. Bukan hanya karena hujan tambah keras turun. Bukan hanya karena angin pegunungan yang menembus sela-sela rusuknya. Ia juga menggigil karena Acep mulai resah dalam gendongannya. Air hujan sudah merembes masuk mengenai kulitnya dan ia menggeliat-geliat kebasahan dan kedinginan.

Sersan Kasim mulai memegang tali yang terentang dari tepi ke tepi. Air membasahi kakinya, membasahi celananya, membasahi sebagian bajunya, menjilat-jilat gendongan anaknya. Ia mulai repot meninggikan anak dan senjatanya bersama-sama. Pada suatu saat ia terperosok ke dalam lubang pada alas sungai dan ia terhuyung-huyung dilanda arus yang deras dan dingin. Air mencapai dada, merendam anaknya. Dan tiba-tiba Acep menangis....

Acep menangis.

Melolong-lolong.

Merobek-robek kesunyian malam dari tebing ke tebing. Suaranya tajam menyayat hati. Menyayat hati bapaknya, hingga sesak bagaikan tak dapat bernapas.

Di hulu sungai, sebuah peluru kembang api ditembakkan ke udara. Malam jadi terang-benderang. Seluruh kompi menahan napas. Masing-masing terpaku pada tempatnya. Peleton 1 di seberang sana. Peleton 3 di seberang sini, sedangkan Peleton 2 di tengah-tengah sungai. Di tengah-tengah Peleton 2 itulah Acep menangis pada dada bapaknya.

Tak ada orang yng mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi dalam beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam. Juga Sersan Kasim tidak sadar. Ia hanya tahu anaknya menangis, setiap saat musuh dapat menumpas mereka dengan senapan mesin dan mortir di bawah peluru cahaya kembang api yang telah mereka tembakkan. Seluruh kompi memandang kepada dia, bergantung kepada dia. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya.

Sejurus kemudian suara Acep meredup. Sesaat lenyap sama sekali.

Sunyi turun kembali ke bumi, berat menekan di dada sekian puluh lelaki yang jantungnya berdegup seperti bedug ditabuh bertalu-talu. Kembang api di langit mulai mati, dan kelam mulai menyelimuti kembali suasana di lembah sungai itu. Kini yang terdengar hanya derau air yang tak putus-putusnya ditingkahi oleh kwek-kwek katak di tepian. Beberapa menit kemudian kompi menghela napas lega dan selamat tiba di seberang.

Keesokan harinya, pada waktu fajar merekah, kompi menunda perjalanannya sementara waktu, meskipun masih terlalu dekat kepada kedudukan musuh. Mereka berhenti pada sebuah desa. Dengan bersama Pak Lurah dan banyak diantara penduduk, mereka berkumpul di pinggir desa. Di sana, dalam upacara yang singkat, Acep diturunkan ke liang kubur. Kemudian semua mata tertuju kepada sosok tubuh Sersan Kasim yang berjongkok di hadapan pusara kecil yng baru ditimbun. Kepalanya terkulai, menunduk.

Akhirnya, ia berdiri dan memandang ragu-ragu sekeliling. Kesedihan yang dalam, jelas terukir pada wajahnya. Baju seragamnya tampak kuyup, hingga lehernya. Komandan kompi tampil ke muka. Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam tangan kanan sersannya dalam kedua belah tangan. Matanya merah, tidak hanya kurang tidur. Dalam angan-angannya terbayang Nabi Ibrahim, yang siap mengorbankan putranya. Tapi ia tak berkata apa-apa.

Setengah jam kemudian, kompi melanjutkan perjalanannya pada punggung bukit yng sejajar dengan tebing sungai. Matahari telah naik, menghalau kabut kemana-mana, memanasi bumi yang lembap oleh hujan semalam. Ditengah-tngah barisannya Sersan Kasim berjalan dengan sten tergantung sunyi pada bahunya. Jauh di bawah, di lembah yang dalam, Sungai Serayu sayup-sayup menderau. Keharuan yang luar bisa kini meluap-luap dalam dada Sersan Kasim, membanjir, menghanyutkan. Dan ia berjalan terus. Dan di bawah, sungai mengalir terus.






Sinopsis Cerpen “Sungai”

Cerpen ini mengisahkan peristiwa yang terjadi pada saat tanah air tercinta ini (Indonesia) dalam penguasaan penjajah Belanda, pada tahun 1948. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencatan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada. Sersan Kasim, Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Bersama para tentara lainnya, mereka berjalan dalam jarak Yogya-Priyangan. Mereka berjalan kaki, menempuh jarak lebih dari 300 kilometer, turun lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar. Akhirnya mereka tiba kembali di tepian Sungai Serayu. Angin pegunungan dari seberang lembah, ditambah lagi air hujan yang mengguyur, membuat mereka menggigil kedinginan. Dengan cermat Sersan Kasim kembali memperbaiki letak selimut berlapis dua yang menyelimuti Acep, seorang bayi mungil, anaknya. Ibunya meninggal sehari setelah melahirkannya dalam pengungsian di Yogya. Ya, dalam perjalanan sejauh itu Sersan Kasim membawa serta anaknya, karena ia tak mau menitipkan pada penduduk yang asing baginya. Dari mulut ke mulut, ada pesan dari depan, agar para kepala regu kumpul. Sersan Kasim dan kepala regu lainnya ke depan, Komandan Peleton sudah menanti di depan Regu 1. Mereka menerima instruksi tentang penyeberangan. Melalui intelligence, terdengar kabar bahwa musuh menjaga tepian sana dengan kekuatan satu kompi. Karena pengawasan ketat, mereka memutuskan untuk menyeberangi sungai lebih ke hilir, walaupun kemungkinan ketinggian air sungai mencapai dada. Setelah para ketua regu menuju ke anak buahnya masing-masing, Sersan Kasim merasa pandangan komandan mengisyaratkan  kalau bayinya dapat membahayakan lebih dari seratus prajurit, sebagaimana telah terjadi sebelumnya. Tangisan satu bayi yang kemudian menular pada anak kecil lainnya saat dalam perjalanan, membuat musuh tahu, bahwa sedang ada perjalanan tentara Republik dan para keluarganya. 16 prajurit dan 10 keluarganya terkena serangan mendadak musuh, hanya karena diawali tangis seorang bayi. Bagi Sersan Kasim tak ada pilihan lain kecuali tetap membawa bayinya.
Mereka mulai menyeberangi sungai. Semakin ke tengah semakin dalam, mencapai perut, kemudian hampir ke dada. Mereka semakin kedinginan, terlebih Sersan Kasim. Bukan saja karena hujan dan basah oleh air sungai, tapi karena Acep mulai gelisah dan meronta dalam gendongannya. Tangisnya pun akhirnya memecah kesunyian. Para prajurit berdegup jantungnya, menahan nafas, saling memandang dan terpaku di tempatnya. Di hulu sungai sebuah peluru kembang api ditembakkan ke udara. Langit jadi terang benderang. Seluruh kompi memandangnya; bergantung kepadanya. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya. Tak ada yang tahu pasti, apa yang terjadi dalam beberapa menit kemudian, yang terasa seperti berjam-jam. Juga Sersan Kasim, tak sadar. Yang ia tahu anaknya menangis, dan setiap saat musuh dapat menumpasnya dengan menembakkan peluru dan mortir. Sejurus kemudian suara Acep meredup. Sesaat lagi lenyap sama sekali. Tembakan berhenti dan pasukan dapat tiba di seberang dengan selamat. Keesokan harinya, saat fajar merekah para prajurit menunda perjalanannya untuk berbela sungkawa dalam upacara singkat pemakaman Acep. Komandan Kompi menghampiri Kasim, menggenggam tangannya. Dalam angannya terbayang pengorbanan Nabi Ibrahim yang siap mengorbnkan putranya, Ismail.





1.      TEMA

Pengertian :

Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Dalam tema tersirat amanat atau tujuan pengarang menulis cerita. Tema dalam cerpen dapat terjabar dalam setiap satuan peristiwa dalam cerita, misalnya melalui tingkah laku atau jalan hidup pelakunya.
Tema juga dapat berarti ide dasar, ide pokok atau gagasan yang menjiwai seluruh karangan yang disampaikan.

Data :

Sepuluh bulan yang lalu, pada bulan Februari 1948, Sersan Kasim juga menyeberangi Sungai Serayu dengan kompinya. Tatkala itu mereka berjalan ke arah timur. Persetujuan Renville telah ditandatangani dan pasukan-pasukan TNI harus hijrah ke kantong-kantong dalam wilayah de facto Belanda. Banyak diantara bintara dan prajurit yng membawa serta anak istrinya.
. Tapi untuk melahirkan anaknya, Aminah telah menggunakan sisa-sisa tenaga rapuhnya yang terakhir. Ia meninggal sehari kemudian karena kepayahan. Acep dapat dipertahankan hidupnya berkat rawatan khusus para dokter dan juru rawat di rumah sakit tentara.
Di sana, dalam upacara yang singkat, Acep diturunkan ke liang kubur. Kemudian semua mata tertuju kepada sosok tubuh Sersan Kasim yang berjongkok di hadapan pusara kecil yng baru ditimbun. Kepalanya terkulai, menunduk. api ditembakkan ke udara. Malam jadi terang-benderang. Seluruh kompi menahan napas. Masing-masing terpaku pada tempatnya. Peleton 1 di seberang sana. Peleton 3 di seberang sini, sedangkan Peleton 2 di tengah-tengah sungai. Di tengah-tengah Peleton 2 itulah Acep menangis pada dada bapaknya

Analisis :

 Dalam cerpen tersebut terdapat Tema Mayor dan Tema Minor . Tema Mayor dalam cerpen tersebut adalah “Pengorbanan” . dan Tema Minor dalam cerpen “Sungai” adalah tentang kasih sayang seorang suami kepada istrinya, kasih sayang bapak kepada anaknya, dan pengorbanan dari apa yang sangat dikasihinya, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih mulia. Dalam rangkaian ceritanya, penulis hendak menyampaikan kepada pembaca bahwa pada saat-saat tertentu dalam kondisi yang sangat mendesak/darurat, dituntut dengan penuh kesadaran dan keikhlasan untuk siap berkorban.
Hal ini tercermin dalan cerpen “Sungai”, Sersan Kasim yang akhirnya mengijinkan istrinya ikut menyertai hijrahnya ke Yogya, walau dalam kondisi yang seba sulit, dan istrinya bersikeras untuk ikut. Kemudian Sersan Kasim memilih untuk tetap membawa bayinya dalam perjalanan panjang yang penuh resiko, dari pada menitipkannya pada orang asing. Dan dalam kondisi yang sangat terdesak, Sersan Kasim “mengorbankan “ anak yang sangat dikasihinya untuk menyelamatkan ratusan prajurit lainnya dari serangan musuh.




2.      PENOKOHAN DAN PERWATAKAN

Pengertian :

Penokohan dan perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya. . Penokohan dan perwatakan sangat erat kaitannya. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut, sedangkan perwatakan berhubungan dengan bagaimana watak tokoh-tokoh tersebut.

a.      PENOKOHAN

Pengertian :

penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
 1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakn tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

Data :

Setiap kali menyeberangi sungai, Sersan Kasim merasakan sesuatu keharuan yang mendenyutkan jantungnya . Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat.
Ketika itu Sersan Kasim telah setengah tahun menikah. Istrinya yang belia sudah lima bulan mengandung. Samar-samar Sersan Kasim melihat pandangan Komandan tertuju kepadanya.
Lagi Kasim merasa pandangan mata Komandan tertuju kepadanya dan kepada anaknya.
Kasim tahu apa arti pandangan itu. . Komandan kompi tampil ke muka. Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam tangan kanan sersannya dalam kedua belah tangan.

Analisis :

1) Tokoh Inti/Tokoh Utama
Cerpen “Sungai” menampilkan tokoh inti atau tokoh utama, yaitu Sersan Kasim yang memiliki watak penyayang; nampak betapa ia menyayangi istrinya yang baru setengah tahun  dinikahinya. Selain itu Begitu sayangnya ia kepada Acep anaknya, makanya ia bersikeras untuk tetap membawa Acep dalam perjalanan yang sulit dan penuh tantangan dari pada menitipkannya pada orang asing, khawatir akan keselamatan dalam pengasuhannya. Hanya bapaknyalah keluarga yang dimilikinya, tanpa tahu ibunya, Sersan Kasim ingin tetap bersama dan mengasuh dalam buaian dan kasih sayangnya.   

2)      Tokoh Tambahan/Tokoh Pembantu
Cerpen “Sungai” menampilkan Komandan Peleton sebagai tokoh pembantu yang melengkapi penokohan Sersan Kasim. Komandan adalah pimpinan yang cermat, bertanggung jawab, dan bijak dalam memutuskan. Pada saat ia mendapat informasi tentang keberadaan musuh yang berjaga-jaga di hulu sungai, ia mengambil langkah yang tepat untuk segera mengumpulkan para pemimpin regu, kemudian menyampaikan info tersebut dan mengambil sikap untuk memerintahkan para pemimpin regu untuk memimpin anak buahnya menyeberang lewat hilir sungai.

b.      PERWATAKAN

Pengertian:

watak adalah kualitas nalar dan jiwa tokoh yang membedakannya dengan tokoh lain.
1.Perwatakan statis, yaitu pelukisan watak sang tokoh tetap tidak berubah – ubah dari awal sampai akhir cerita.
2. Perwatakan dinamis, yaitu watak sang tokoh berubah atau berkembang dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat sesuai dengan situasi yang dimasukinya.
3. Perwatakan datar, yaitu watak sang tokoh disoroti hanya dari satu unsure atau satu dimensi saja.
4. Perwatakan bulat, yaitu watak sang tokoh dilukiskan dari segala aspek dan meliputi semua dimensi, yaitu dimensi fisiologis, psikologis, dan social seperti yang terdapat pada tokoh nyata dalam hidup sehari-hari.

Data :

Rasa sayang membual keluar dan menyesakkan kerongkongan Kasim. Anakku yang tak sempat mengenal ibunya, pikirnya. Anakku yang disusui oleh botol. Dan kini dia harus dititipkan pada orang lain! Untuk berapa lama? Dan amankah dia dalam asuhan orang lain? Akan selamatkah dibawa orang asing dalam penyeberangan nanti? Anak lelaki titipan satu-satunya, Juga Sersan Kasim tidak sadar. Ia hanya tahu anaknya menangis, setiap saat musuh dapat menumpas mereka dengan senapan mesin dan mortir di bawah peluru cahaya kembang api yang telah mereka tembakkan. Seluruh kompi memandang kepada dia, bergantung kepada dia. Komandan ingin bertanya, apakah ia menyadari bahwa tangisan seorang bayi dapat membawa kebinasaan bagi lebih dari seluruh kompi. Bahwa bayinya, si Acep, dapat mmbahayakan jiwa lebih dari seratus orang prajurit. Itulah yang tersirat dalam pandangan Komandan. Pandangan Komandan itu seolah-olah berkata, ”Ingatlah Kompi 3 batalyon B yang kehilangan 16 prajurit dan 10 keluarga, karena serangan mendadak oleh musuh. . Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan dengan sangat hati-hati, menggendong bayi pada panggulnya sebelah kiri. Dari bahu kanan bergantung sebuah sten. Hanya samar-samar matanya yang terlatih melihat orang yang berjalan di depannya. Untuk memudahkan penglihatan, tiap-tiap prajurit yng kurang baik penglihatannya, memasang sepotong cendawan yang berpijar pada punggung kawan yang berjalan di depannya.



Analisis :

Watak Kasim dalam cerpen tersebuat adalah watak datar – protagonist . Bertanggung jawab; sebagai seorang pimpinan regu, ia bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya. Bahkan iapun mempertaruhkan harapan idam-idamannya, biji matanya, anak kesayangannya untuk menjadi jaminan atas keselamatan anak buahnya sera anggota kompi yang lainnya.
Watak Komandan dalam cerpen tersebuat adalah watak datar – protagonist .  Bertanggung jawab dan bijak, nampak ketika ia mengumpulkan para ketua regu, mengingatkan kepada Sersan Kasim tentang banyaknya prajurit yang menjadi korban, gara-gara tangis bayi yang memecahkan kesunyian, hingga perjalanan rombongan tentara dan para keluarganya tercium musuh. Namun demikian, sisi manusiawinya menjadikan ia bijak ketika akhirnya mengijinkan Sersan Kasim tetap akan membawa anaknya  dengan catatan tetap waspada akan keselamatan semua prajurit.

c.       TEKNIS / PENYAJIAN

Pengertian :

Teknik eksplositori sering juga disebut sebagai teknik analitis, yaitu pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan diskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya yang mungkin berupa sikap, sifat watak, tingkah laku atau bahkan ciri fisiknya.
Secara dramatikPenampilan tokoh cerita dalan teknik dramatik dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Data :

Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencetan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada.
”Ada pertanyaan?” tanya Komandan Peleton.
Tidak ada yang menyahut. Samar-samar Sersan Kasim melihat pandangan Komandan tertuju kepadanya.
”Bagaimana bayimu?” tanya Komandan.
”Tidur Pak,” jawab Kasim singkat
pusat rasa yang sehalus-halusnya, peninggalan istri yang setia dan keras hati. Cucu yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya di Garut, untuk mertuanya di Pager Ageung, sebagai tanda mata anak dan menantu dari istrinya tercinta yang telah meninggal.
Sersan Kasim membelai anaknya yang dalam gendongan,
”Saya minta izin untuk membawanya,” katanya.
”Kau yakin dia tidak menangis?”
”Insya Allah, tidak.”
Tak ada orang yang mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi dalam beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam. Juga Sersan Kasim tidak sadar. Ia hanya tahu anaknya menangis, setiap saat musuh dapat menumpas mereka dengan senapan mesin dan mortir di bawah peluru cahaya kembang api yang telah mereka tembakkan. Seluruh kompi memandang kepada dia, bergantung kepada dia. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya.
Sejurus kemudian suara Acep meredup. Sesaat lenyap sama sekali.
Sunyi turun kembali ke bumi, berat menekan di dada sekian puluh lelaki yang jantungnya berdegup seperti bedug ditabuh bertalu-talu. Kembang api di langit mulai mati, dan kelam mulai menyelimuti kembali suasana di lembah sungai itu. Kini yang terdengar hanya derau air yang tak putus-putusnya ditingkahi oleh kwek-kwek katak di tepian. Beberapa menit kemudian kompi menghela napas lega dan selamat tiba di seberang.

Analisis :
Pada cerpen “Sungai” , Teknis/penyajian ang digunakan adalah teknis Dramatis . dapat dibuktikan dengan Prcakapan yang dilakukan tokoh kasim dan komandan.. Selain itu adanya tingkah laku mengarah pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tindakan dan tingkah laku dapat dipandang sebagai menunjukkan reaksi tanggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya. Adanya Pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga. Bahkan pada hakikatnya, pikiran dan perasaannyalah yang kemudian dijadikan tingkah laku verbal dan nonverbal.























3.      PLOT / ALUR

Pengertian :
Plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh pembaca yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan alur/plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada.
Data :

Setiap kali menyeberangi sungai, Sersan Kasim merasakan sesuatu keharuan yang mendenyutkan jantungnya. Seolah-olah ia berpisah dengan sesuatu, sesuatu dalam hidupnya. Makin besar sungai itu, makin besar pula keharuan yang menggetarkan sanubarinya.
Kini, kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai yang terbesar di Jawa Tengah, Sungai Serayu. Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencetan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada. Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan. Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan dengan sangat hati-hati, menggendong bayi pada panggulnya sebelah kiri. Dari bahu kanan bergantung sebuah sten. Hanya samar-samar matanya yang terlatih melihat orang yang berjalan di depannya. Untuk memudahkan penglihatan, tiap-tiap prajurit yang kurang baik penglihatannya, memasang sepotong cendawan yang berpijar pada punggung kawan yang berjalan di depannya.  Sepuluh bulan yang lalu, pada bulan Februari 1948, Sersan Kasim juga menyeberangi Sungai Serayu dengan kompinya. Tatkala itu mereka berjalan ke arah timur. Persetujuan Renville telah ditandatangani dan pasukan-pasukan TNI harus hijrah ke kantong-kantong dalam wilayah de facto Belanda. Banyak diantara bintara dan prajurit yang membawa serta anak istrinya. Ketika itu Sersan Kasim telah setengah tahun menikah. Istrinya yang belia sudah lima bulan mengandung. Namun, ia memaksa mengikuti suaminya ke wilayah kekuasaan Republik. Pernah terpikir oleh Kasim untuk menitipkan istrinya kepada mertuanya di Pager Ageung. Dua bulan setelah mereka tiba di Yogya, Acep dilahirkan. Matanya hitam tajam, meskipun badannya sangat kecil, dan rambutnya lebat seperti hutan di Priangan. Tapi untuk melahirkan anaknya, Aminah telah menggunakan sisa-sisa tenaga rapuhnya yang terakhir. Ia meninggal sehari kemudian karena kepayahan. Acep dapat dipertahankan hidupnya berkat rawatan khusus para dokter dan juru rawat di rumah sakit tentara.  Akhirnya mereka kembali di tepiaDengan cermat ia perbaiki letak selimut berlapis dua yang menutupi Acep dalam gendongan. Acep, biji matanya, harapan idamannya. Kemudian, dengan satu gerakan ia usap air hujan pada wajahnya sendiri.







Analisis :
1)      Eksposisi, merupakan uraian/paparan  yang disajikan penulis sebagai pembuka untuk memasuki ceritanya. Paparan sifatnya masih datar, belum nampak intrik-intrik yang dapat memicu konflik. Dalam cerpen “Sungai” eksposisi digambarkan  pada paragraf 1,2,3, dan 4
2)      Komplikasi dan konfliks, merupakan intrik-intrik awal yang akan berkembang hingga menjadi konflik. Dalam cerpen “Sungai, komplikasi dan konflik digambarkan mulai dari paragraf 5 s.d. paragraf 19. Melalui paragraf  tersebut  dikisahkan tentang perjalanan kompi yang bersamanya Sersan Kasim membawa serta istrinya, kemudian istrinya meninggal, dan kini dia harus kembali melakukan perjalanan jauh dengan kompi lainnya dengan membawa anaknya. Mulai muncul konflik ketika komandannya mengisyaratkan untuk tidak membawa serta anaknya, dan Sersan Kasim tetap meminta ijin untuk membawanya.
3) Klimaks, merupakan situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi. Hal ini nampak pada paragraf 20 sampai 25, dimana Sersan Kasim dalam kondisi paling sulit, mempertahankan keselamatan anaknya, dari garangnya alam yang tidak bersahabat ketika menyeberang sungai yang kedalamannya hampir mencapai dada bapaknya yang menggendongnya, ditambah dengan guyuran hujan yang membuat badan mungilnya basah dan dingin. Namun di luar kemampuannya, Acep menangis, dan melolong. Di dorong oleh tanggung jawabnya sebagai pimpinan regu atas keselamatan anak buahnya, ia melakukan “sesuatu” (penulis tidak menyatakan dengan jelas apa yang dilakukan Sersan Kasim) untuk menghentikan tangis anaknya. Acep benar-benar diam, tak menangis lagi, tidak hanya untuk saat itu, tetapi untuk selamanya.
4) Revelasi, merupakan menyingkapan tabir suatu problema, dimana keesokan harinya baru para prajurit tahu, bahwa Acep telah meninggal. Penulispun tidak menyatakan apakah mereka tahu penyebabnya atau tidak, namun dari apa yang tersirat dalam “tatapan Komandan” mengisyaratkan bahwa apa yang terjadi semalam adalah bentuk pengorbanan terbesar bagi Sersan Kasim, dengan penulis memunculkan angan-angan sang Komandan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim. Hal ini terdapat pada paragraf 26 sampai 27.
5) Denoument / Catastrophe, merupakan penyelesaian yang menyedihkan dan solution yakni penyelesaian yang masih bersifat terbuka, karena pembaca sendirilah yang dipersilahkan menyelesaikan lewat daya imajinasinya. Hal ini tergambar pada paragraf  28 sampai 31. Kesediham yang dalam terukir jelas pada wajah Sersan Kasim. Keharuan yang luar biasa kini meluap-luap dalam dadanya, membanjir, menghanyutkan. Tak ada lagi buah hati yang diidam-idamkan sebagai penerus cita-citanya, tak ada lagi oleh-oleh yang akan dipersembahkan untuk orang tuanya, tak ada lagi pelipur laranya….









4.      SETTING / LATAR

Pengertian :

Setting adalah latar peristiwa, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis (Aminudin, 2004:67).

Data :

Kini, kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai yang terbesar di Jawa Tengah, Sungai Serayu.
Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencetan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada. Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan.
Setengah jam kemudian, kompi melanjutkan perjalanannya pada punggung bukit yng sejajar dengan tebing sungai. Matahari telah naik, menghalau kabut kemana-mana, memanasi bumi yang lembap oleh hujan semalam. Ditengah-tngah barisannya Sersan Kasim berjalan dengan sten tergantung sunyi pada bahunya. Jauh di bawah, di lembah yang dalam, Sungai Serayu sayup-sayup menderau. Keharuan yang luar bisa kini meluap-luap dalam dada Sersan Kasim, membanjir, menghanyutkan. Dan ia berjalan terus. Dan di bawah, sungai mengalir terus.

Analisis :

1)      Setting Tempat

(1)   Sungai
Dari judulnya, cerpen tersebut menggambarkan bahwa kisaran tempat adalah di sungai, tepatnya Sungai Serayu, di kaki pegunungan daerah Banjarnegara. Cerpen ini diawali dengan istilah menyeberangi sungai,  dan pada klimaks cerita, peristiwa itu terjadi di sungai, dalam perjalanan Yogya-Priangan.
(2)   Jawa Barat
Jawa Barat adalah daerah operasi tempat Sersan Kasim bertugas. Daerah yang ditinggalkannya karena Sersan Kasim beserta beberapa kompi prajurit harus meninggalkannya untuk hijrah ke Yogya, kota yang diduduki Belanda seiring dengan pelanggaran persetujuan gencatan senjata.
(3)   Yogya
Yogya adalah tempat tujuan hijrah TNI, dan tempat Acep, anak Sersan Kasim dilahirkan, sekaligus tempat istri Sersan Kasim meninggal sehari setelah Acep dilahirkan dengan sisa tenaganya.
(4)   Di pinggir desa
Tempat Acep dimakamkan, saksi bisu pengorbanan Sersan Kasim.
  
2)      Setting Waktu

(1)   Jam satu malam
Malam yang gulita dan hujan di mana pada saat itu para prajurit melakukan perjalanan menuju ke Priangan, Jawa Barat. Perjalanan dilakukan dengan jalan kaki, dan dilakukan malam agar tidak diketahui oleh musuh.
(2)   Sepuluh bulan yang lalu
Tepatnya pada bulan Februari 1948, ketika Sersan Kasim dan kompi lainnya sera para keluarganya juga menyeberangi sungai yang sama. Pada saat itu istri Sersan Kasim memaksa untuk menyertai suaminya, walau dalam kondisi hamil.
(3)   Pada waktu fajar merekah
Saat para prajurit menunda perjalanan untuk menyertai pemakaman Acep.
(4)   Matahari telah naik
Hari mulai siang, kompi segera melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Dalam cerpen dituliskan, “matahari telah naik, menghalau kabut kemana-mana, memanasi bumi yang lembab oleh hujan semalam.” Penulis menafsirkan bahwa keputusan terberat yang diambil Sersan Kasim dan menyelamatkan banyak nyawa menjadi sebuah pengorbanan yang mulia, sebagaimana Nabi Ibrahim, yang siap mengorbankan anak tercintanya untuk memenuhi ujian akan kecintaannya kepada Alloh SWT. Kini para prajurit itu telah selamat, dan ada harapan baru dengan semangat yang baru, dengan tetap melanjutkan perjuangan.

3)  Setting Suasana

Cerpen “sungai” menggambarkan suasana kesedihan ., dapat dibuktikan pada penggalan cerita . Kesedihan yang dalam, jelas terukir pada wajahnya. Baju seragamnya tampak kuyup, hingga lehernya. Komandan kompi tampil ke muka. Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam tangan kanan sersannya dalam kedua belah tangan. Matanya merah, tidak hanya kurang tidur. Dalam angan-angannya terbayang Nabi Ibrahim, yang siap mengorbankan putranya. Tapi ia tak berkata apa-apa.

4)  Setting Peristiwa

Cerpen “Sungai” mengisahkan peristiwa pada masa “perang”. Meskipun sudah tiga tahun Indonesia merdeka, namun Belanda masih bercokol di Indonesia dan masih ingin menguasai kembali.

5.      KONFLIK
Pengertian :
Salah satu hal yang merupakan bagian dari kehidupan manusia bahkan kadang menjadi penentu alur hidup seseorang adalah konflik. Konflik sendiri sangat luas cakupannya. Secara umum konflik dalam karya sastra bisa digolongkan menjadi dua, yakni konflik internal dan konflik eksternal. Untuk lebih jauh, konflik internal adalah permasalahan yang terjadi dalam diri seorang tokoh dan mengalami pergulatan dalam dirinya tanpa disebabkan atau mempengaruhi orang lain di sekitarnya. Sedangkan konflik eksternal adalah masalah yang terjadi dengan faktor lain di luar diri.
Data :

Ketika giliran peletonnya untuk menyeberang, Kasim menggigil lebih keras lagi. Bukan hanya karena hujan tambah keras turun. Bukan hanya karena angin pegunungan yang menembus sela-sela rusuknya. Ia juga menggigil karena Acep mulai resah dalam gendongannya. Air hujan sudah merembes masuk mengenai kulitnya dan ia menggeliat-geliat kebasahan dan kedinginan.
Sersan Kasim mulai memegang tali yang terentang dari tepi ke tepi. Air membasahi kakinya, membasahi celananya, membasahi sebagian bajunya, menjilat-jilat gendongan anaknya. Ia mulai repot meninggikan anak dan senjatanya bersama-sama. Pada suatu saat ia terperosok ke dalam lubang pada alas sungai dan ia terhuyung-huyung dilanda arus yang deras dan dingin. Air mencapai dada, merendam anaknya
Di hulu sungai, sebuah peluru kembang api ditembakkan ke udara. Malam jadi terang-benderang. Seluruh kompi menahan napas. Masing-masing terpaku pada tempatnya. Peleton 1 di seberang sana. Peleton 3 di seberang sini, sedangkan Peleton 2 di tengah-tengah sungai. Di tengah-tengah Peleton 2 itulah Acep menangis pada dada bapaknya.

Analisis :

Dalam Cerpen tersebut terdapat Konflik Eksternal yang didalamnya terdapat konflik Sosial dan fisik . Dibuktikan dengan permasalahan yang dialami kasim dengan para pasukan tentara belanda yang ingin menyerang , sedangkan keadaan kasim yang memiliki istri yng sedang hamil .

Terdapat pula permasalahan yang dialami kasim dengan cuaca alam yang membuat ia dan anaknya harus berjuang dengan keadaan hujan yang sangat deras untuk melawan tentara yang menyerangnya . 
Post a Comment